|
10 Hari Menyusuri Thailand Utara dan Laos

White Temple di Chiang Rai
Ke mana liburan ke luar negeri jika punya bujet terbatas tapi waktu yang panjang? Boleh coba Thailand Utara dan Laos deh! Primadona Thailand Utara, Chiang Mai, bisa diakses dari Bangkok dengan penerbangan murah, kereta api, maupun bus. Direct flight dari Jakarta dengan Thai Airways juga ada. Ikuti perjalanan my Trip 10 hari di Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai, Luang Prabang (Laos).
HARI 1
JAKARTA-BANGKOK
Terbang dari Jakarta pukul 16.20 dan sampai di Bangkok pukul 19.45. Langsung meluncur dengan taksi minivan (karena kami berlima) yang ada di halaman bandara ke Vaboir Lodge Royal Suite Hotel. Taxi fare: THB 700 sudah termasuk pajak bandara THB 50 dan tol. Dua puluh menit perjalanan, kami tiba di hotel yang telah kami pesan dengan harga Rp 180.000/ malam (via www.agoda.com).
HARI 2
BANGKOK-CHIANG MAI
Terbang pukul 06.45, kami mendarat di Chiang Mai pukul 08.00. Karena nggak ada taksi minivan, kami pesan dua taksi masing-masing THB 120 untuk ke hotel yang sudah dipesan online (via Agoda), New Mitrapap Hotel. Konter taksi ada di dalam bandara. Kotanya kecil banget, cuma 15 menit udah sampai di hotel bintang dua yang ada di pusat kota ini. Harga Rp 130.000/ malam.

Kerajinan payung di Desa Borsang.
CITY TOUR CHIANG MAI DENGAN NAIK SONGTHAEW
Sewa songthaew (angkot) dan supirnya untuk city tour seharga THB 1.300.Tujuannya:
-
Sentra kerajinan katun, sutra, kulit, dan kayu.
-
Makan siang buffet di Nam Ton Restaurant. THB 200/ orang. Ada menu khas namanya Kao Soi. Sayang, saya udah kenyang, nggak sempat coba deh.
-
Kerajinan payung di Desa Borsang yang menjadi ciri khas Chiang Mai.
-
Sankampaeng Hotspring. Tiket THB 40/ orang.
-
Wat Doi Suthep. Ke Chiang Mai belum lengkap kalau belum ke sini.
Naik ke wat utama di Wat Doi Suthep, ada dua pilihan, naik tangga, atau naik lift dengan membayar THB 50/ orang. Lift-nya nggak naik vertikal lho, tapi miring 45 derajat menyusuri punggung bukit. Kita bisa melihat lintasan lift di bawah lewat jendela kaca. Rada serem juga. Keluar lift, kita langsung ngelihat pagoda keemasan.
Malam hari waktunya Kantoke Dinner. THB 300/ orang. Ini acara jamuan makan khas Thailand Utara katanya. Duduknya lesehan kayak di Malioboro aja gitu. Lauknya yang bikin ngiler ditaruh di mangkuk-mangkuk kecil: ayam goreng krispy, kulit babi kering, kentang manis, tumis sawi putih-kol-wortel, lalap, daging berkuah cokelat, dan sambal. Plus nasi putih dan khaw niaw (nasi ketan). Slurp slurp yummy!
Selesai dinner, kami ngubek-ngubek Sunday Market, salah satu pasar malam di Chiang Mai. Banyak barang etnis dijajakan di sini. Jangan kalap belanja ya!
HARI 3
GOLDEN TRIANGLE TOUR
THB 1.200/ orang (termasuk makan siang). Awalnya kita berhenti dulu di hotspring yang nggak ada bagus-bagusnya. Baru lanjut ke Wat Rong Khun alias White Temple. Viharanya anggun banget karena cat dan ornamen kacanya serba putih. Untung kami datang pas matahari lagi terik-teriknya, jadi kelihatan makin berkilau tuh.
Tujuan ketiga pastinya Golden Triangle dong. Masuknya dari Desa Chiang Saen, 62 km dari Chiang Rai, Thailand. Ada Patung Buddha emas di dekat dermaga yang berdiri gagah.
Dari delta sungai, perahu balik arah dan mendarat di Desa Don Xao, sisi Laos. Bayar land taxes THB 20. Kalau berani cobain deh lao whiskey dari ular, kalajengking, tokek, kura-kura, ginseng dll. Kepala ularnya mencuat keluar dari bejana beling seperti mau matuk kita. Hiiiy… Jijay bajay!
Selesai lunch, rombongan ke Mae Sai, kota terutara di Thailand. Perbatasan Thailand dengan Myanmar (Kota Tachilek) ini penuh dengan toko. Bisa foto-foto narsis di depan tugu The Northern Most of Thailand dan di depan gerbang imigrasi.

Foto bareng si leher panjang Suku Karen.
Tujuan terakhir: Suku Karen yang berleher panjang. Ada nenek-nenek, ada juga gadis cilik yang memakai gelang besi di lehernya. Setiap tahun gelang besinya ditambah terus. Wadow... Kebayang kan kalau mereka mulai pakai sejak umur 5 tahun? Kayak jerapah dong.
BERMALAM DI CHIANG RAI
Balik dari tur, kami turun di Chiang Rai. Langsung cari penginapan dari agen perjalanan di pinggir jalan. Dapet Diamond Park Inn Chiang Rai Resort, bintang 3. Harga cuma THB 800. Kamar bersih, berlantai parket dan luas. Worth the money! Di Bali nggak bakal dapet dengan harga segitu.
Diamond Park Inn Chiang Rai Resort
74/6 Moo 18, Tubol Robviang, Muang, Chiang Rai
Telp: (+66-053) 7549602
www.diamond-park.com
HARI 4
CHIANG RAI-CHIANG KONG-HOUAI XAY-PAK BENG
Sesuai rencana, hari ini lanjut ke Laos. Dengan paket slow boat seharga THB 1.900/ orang, kami naik sedan jemputan ke Chiang Kong, kota perbatasan di tepi Sungai Mekong. Keluar imigrasi Thailand di Chiang Kong, kami menyeberang ke sisi Laos, Desa Houai Xay. Di imigrasi Laos, pemegang paspor RI harus bayar Visa On Arrival USD 30. Jangan lupa bawa pasfoto 4X6.

Beginilah suasana di atas perahu yang membawa kami ke Pak Beng.
Dari dermaga Houai Xay kami naik kapal kayu panjang yang kapasitasnya 120 orang. Menyusuri Sungai Mekong menuju Luang Prabang. Tempat duduk di kapal terbuat dari kayu, dengan senderan yang cuma setengah punggung. Pegal banget tujuh jam duduk di kursi semacam itu. Tiba di Desa Pak Beng pukul 6.30-an malam. Kami langsung menuju Vila Salika yang telah dipesan. Harga THB 300/ malam.
HARI 5
PAK BENG-LUANG PRABANG
Pagi ini kapal kami lanjut ke Luang Prabang. 7 jam lagi! Tiba sore hari di Luang Prabang dalam kondisi capek abis. Malam ini nginap di Sok Dee Residence. THB 380/ malam.
Malam-malam enaknya ngapain ya? Ah, seperti biasa, ke pasar malam aja deh. Letaknya di ujung Jalan Sisavangvong, jalan utama kota tua. Barang jualannya mayoritas kerajinan Suku Hmong, suku pedalaman Laos. Banyak pemandangan menyentuh, salah satunya anak kecil yang tertidur pulas di antara dagangan ibunya.

Pasar malam di ujung lalan Sisavangvong.
HARI 6
LUANG PRABANG: KUANG SI WATERFALL DAN PAK OU CAVE

Air terjun utama Kuang Si Waterfall.
City tour ke Kuang Si Waterfall dan Pak Ou Cave. Per orang 180.000 Kip hanya untuk transport, sedangkan tiket masuk bayar sendiri.
Kuang Si Waterfall ini air terjun tercantik di Luang Prabang yang letaknya 30 km di selatan kota, 40 menit naik mobil. Air terjun ini istimewa karena ada beberapa tingkat. Begitu masuk gerbangnya, setelah membeli tiket 20.000 Kip kita bisa memilih masuk dari pintu bawah atau atas. Rekomendasi my Trip, mulai aja dari bawah. Kita akan ketemu kandang beruang dulu, baru air terjun kecil yang membentuk laguna di bawahnya dengan air hijau turkois.
Terus ke atas ada lagi air terjun, juga dengan laguna di bawahnya. Kita bisa main Tarzan-tarzanan, terjun ke laguna dengan bergelantungan pada akar pohon. Seru bener nontonin bule berbikini jadi Tarzan. Dan terakhir, air terjun utama yang indah. Mandangin air terjun yang muncrat dari celah tebing limestone itu, saya cuma bisa bilang: “Wow! Amazing!”
Kami ke Pak Ou Cave naik perahu bersama 4 turis lainnya menyusuri Sungai Mekong. Jaraknya dari kota 25 km. Untuk masuk guanya, kita bayar tiket 20.000 Kip. Gua yang berada di salah satu tebing di pesisir Sungai Mekong ini terdiri dari gua bagian bawah, disebut Tham Ting, dan gua bagian atas, Tham Phum. Kelihatan dari jauh gua ini seperti ceruk besar di sisi tebing.
Dari belakang atas altar utama ini pemandangannya bagus buat dipotret. Kita bisa bikin foto yang bingkainya stalaktit dan obyek utamanya siluet Patung Buddha dengan latar sungai dan perahu yang berlabuh.
Gua bagian bawah memuat sekitar 4.000 Patung Buddha yang berasal dari abad ke-18 sampai abad ke-20 dengan berbagai ukuran. Dari yang sebesar ibu jari sampai setinggi orang dewasa. Ada yang terbuat dari kayu, keramik, perunggu dan tanduk binatang
HARI 7
LUANG PRABANG: PINDAPATA DAN JALAN KAKI DARI WAT KE WAT

Pindapata di pagi hari.
Hari ini waktunya melaksanakan niat utama kami ke Luang Prabang: berdana makanan pagi untuk para bhikkhu yang berpindapata (berkeliling mencari dana makanan). Bhikkhu yang lewat banyak banget, mungkin ada 300-an. Ada yang sudah tua, banyak juga yang masih anak-anak. Nggak pernah saya ngelihat bhikkhu sebanyak ini di Indonesia, bahkan saat perayaan Waisak sekalipun.
Karena kotanya sepi dan adem, kami sepakat jalan kaki dari wat (vihara) ke wat. Kagak ada tuh serobotan motor di trotoar kayak di Jakarta. Nyaman poll! Berjalan ke ujung timur laut kota, ada landmark Luang Prabang, Wat Xieng Thong. Wat ini mewakili arsitektur klasik Luang Prabang. Dibangun tahun 1560 oleh Raja Setthathirath dari Kerajaan Laos. Kita harus merogoh kocek 20.000 Kip buat tiket.
Bangunan utama Wat Xieng Thong yang disebut sim memiliki atap berlapis meruncing yang melandai ke bawah. Tepat di tengah atapnya terdapat “dok so fa”, elemen dekoratif berwarna keemasan yang seolah-olah menusuk langit.
That Chomsi berdiri di Bukit Pousy. Pintu masuknya ada di Jalan Sisavangvong. Masuk ke sini harus bayar tiket 20.000 Kip. Untuk sampai bangunan utama di puncak bukit, kita harus mendaki anak tangga. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan Luang Prabang.
Ada beberapa wat lain yang kami singgahi antara lain Wat Khili, Wat Saen, Wat Sop, Wat Mai Suwannaphumaham. Keunikan wat-wat dan kehidupan sakral para bhikkhu, serta keramahan penduduk dan suasananya yang teduh, bikin saya jatuh cinta sama Luang Prabang. Nggak salah deh UNESCO menobatkan kota kecil bersahaja di utara Laos ini sebagai salah satu Kota Warisan Dunia (World Heritage).
Boks
ADA BEBERAPA ATURAN YANG HARUS DIPATUHI UNTUK BERDANA MAKANAN PAGI:
-
Beli makanan yang kita yakin kualitasnya baik ya. Biasanya masyarakat lokal masak sendiri nasi ketan buat didanain. Kita bisa beli dari mereka.
-
Jangan masukan selain makanan ke mangkuk para bhikkhu, duit misalnya.
-
Selagi ngasih dana, sebaiknya duduk bersimpuh.
-
Jangan motret terlalu dekat. A big no no!
HARI 8
LUANG PRABANG-VIENTIANE-BANGKOK

Wat Xieng Thong, ikon Luang Prabang.
Pagi ini kami dana makanan lagi untuk para bhikkhu. Baru setelah itu jalan kaki ke pasar tradisional. Nggak beda jauh dari pasar tradisional di Indonesia tuh. Ada jajanan pasar yang nyam-nyam. Makanan semacam ongol-ongol, 1 potong hanya 500 Kip. Ada juga serabi mini yang amboiii…. gurih nian. Juga 500 Kip.
Kota cantik ini toh harus kami tinggalkan juga. Siang kami meluncur ke Luang Prabang Airport dengan minivan sewaan (THB 160 —mau lebih murah, bisa sewa tuktuk). Cuma sekitar 20 menit. Bandaranya kecil, jauh dari hiruk-pikuk. Pesawat kami menuju Bangkok transit di ibu kota Laos, Vientiane, tepatnya di Wattay International Airporti. Karena beberapa bulan setelah kedatangan kami diselenggarakan SEA Games ke-25 di Vientiane, banyak suvenir berlogo maskot SEA Games dijajakan di bandara.
Tiba kembali di Bangkok malam, langsung meluncur dengan taksi ke Khaosan Road, ke penginapan yang sudah kami pesan, Sawasdee Smile Inn. Setelah check in, kami langsung ngacir ke Suanlum Night Bazaar. Sayang, kabarnya pasar malam ini ditutup per 10 Desember 2010. Entah nanti manajemen barunya akan membangun mall modern atau cuma ngeremajain aja pasar yang ada.
HARI 9
BANGKOK: WISATA WAT

Wat Pho.
Buat kamu yang bisa baca peta dan nggak segan nanya-nanya, nggak usah ikut city tour lah buat jelajah Bangkok. Cukup naik bus kota, tuktuk, BTS/ skytrain, atau mentok-mentok taksi. Tapi hati-hati dengan tawaran orang “baik hati” yang berkeliaran di lokasi wisata. Awalnya dia bilang Grand Palace atau Wat Pho lagi tutup. Ujung-ujungnya nawarin kita naik tuktuk super murah buat keliling-keliling. Tapi nanti kita disuruh mampir di toko perhiasan. Jika mau ngikutin “permainan” mereka silakan, tapi nggak perlu terpancing beli perhiasan ya.
Wat Benchamabophit (Marble Temple). Gratis. Ada standing Buddha yang cukup besar dan banyak peziarah lokal bersembahyang.
Wat Saket (Golden Mount). Gratis. Vihara ini cukup istimewa karena dari puncak bangunannya kita bisa melihat pemandangan Bangkok. Di puncaknya juga berdiri gagah pagoda keemasan.
Kami mampir di dua wat lagi: Wat Thewarat Kunchon dan Wat Pho (Temple of the Reclining Buddha), yang masing-masing harga tiketnya THB 40.
HARI 10
BANGKOK-JAKARTA
HOME AGAIN

Platinum Fashion Mall.
Hari ini kami putuskan sewa minivan, termasuk supir, bensin, tol, parkir (THB 1.600). Tujuan pertama: Four Faces Buddha alias Erawan Shrine di sudut Grand Hyatt Erawan Hotel, dekat stasiun BTS Chitlom. Yang mau sembahyang silakan, bisa beli paket lilin, bunga dan dupa yang standar seharga THB 50. Yang hanya mau foto-foto juga monggo. Patung ini terkenal bisa mengabulkan permintaan para pendoa yang sungguh-sungguh. Mau coba?
Tujuan terakhir: Platinum Fashion Mall di Petchaburi Road, Pratunam. Belanja... belanjaaa... Mal berlantai 5 ini penuh dengan produk fesyen: baju kasual, baju pesta, sepatu, tas, aksesoris, pokoknya barang-barang yang membuat makhluk perempuan lupa diri. Butuh waktu minimal 4 jam sampai puas mengelilingi mal yang memberlakukan harga grosir jika kita membeli 3 item. Ada food court juga di Platinum. Harganya standar lah.
Dengan selesainya acara belanja di Platinum, selesai pula jalan-jalan kami kali ini. Penerbangan kami telah menanti di Suvarnabhumi Airport untuk mengantar kembali ke Jakarta.
Boks
SHOP TILL WE DROP AT CHATUCHAK WEEKEND MARKET.
CARA KE SANA:
Berhubung Chatuchak agak jauh ke utara Bangkok, mahal kalau naik taksi. Jadi cobalah naik BTS ke stasiun terakhir: Mochit, THB 35 (dari Siam Square).
WAKTU BUKA:
Sesuai namanya, Chatuchak hanya buka pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu) dari pagi hingga sore.
TIPS EFEKTIF BERBELANJA DI SANA:
Karena pasarnya sangat sangat luas, sebaiknya ambil peta lokasi Chatuchak yang terdapat di beberapa sudut pasar ini. Dengan bermodalkan peta kita jadi lebih mudah menentukan mau ke bagian apa dulu. Jangan lupa menawar serendah mungkin, bisa setengah atau sepertiga harga.
(boks)
Perbedaan Waktu
Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta, Bangkok, Chiang Mai, Chiang Rai, Luang Prabang, Vientiane.
Mata Uang
Thailand: THB (Thailand Baht). 1 THB = +/- Rp 300
Laos: Kip. 1 Kip = Rp 1,15 (Semua transaksi di Laos dapat menggunakan THB). Jadi tak perlu menukar uang THB atau USD Anda dengan Kip. Atau jika ingin tukar, seperlunya saja. Habiskan Kip Anda di Laos. Karena nilainya jatuh jika Anda menukar balik di Thailand.
Artikel dan foto dari MY TRIP magazine
|